Materi Kuliah, Pengetahuan Umum

Close
Rabu, 24 Februari 2016

Pengertian, Ciri-ciri, dan Klasifikasi Lumut

Pada artikel ini akan membahas lebih detail mengenai pengertian lumut dan klasifikasinya, pembahasan kali ini adalah lanjutan dari pembahasan klasifikasi tumbuhan sebelumnya. Langsung saja simak kelanjutan artikel ini.

Apa Pengertian Lumut?

Menurut KBBI(Kamus besar bahasa Indonesia) Lumut adalah tumbuhan hijau atau kuning kecil-kecil yang banyak tumbuh dan berkelompok membentuk bantalan (hamparan) menyerupai beledu pada batu, kayu, tanah, atau tembok yang lembap.

Lumut adalah tumbuhan pertama yang beradaptasi dengan lingkungan darat, menyesuaikan diri dengan lingkungan darat yang basah dan lembap. Karena mampu berpindah dari habitat air ke habitat darat, maka tumbuhan lumut disebut juga sebagai tumbuhan amfibi (amphibious plant). Tumbuhan ini tergolong kelompok Cryptogamae, yaitu kelompok tumbuhan yang alat reproduksinya tersembunyi.

Tingkat perkembangan lumut lebih maju dari kerabat dekatnya, yaitu alga. Hal tersebut karena sifat hidupnya yang sebagian besar telah berada di darat. Selain itu, lumut yang berhabitus seperti tumbuhan tingkat tinggi, dalam batangnya sudah ada sekelompok sel-sel memanjang sebagai buluh pengangkut. Lumut juga sudah memiliki rizoid (struktur menyerupai akar pada tumbuhan tingkat tinggi) sebagai alat penyerap dan pelekat.

Ciri-ciri Lumut

Lumut mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan tumbuhan lain yaitu mempunyai ukuran relatif kecil, tingginya 2 sampai 50 cm. Tubuhnya tidak memiliki akar, batang, dan daun yang sebenarnya, tetapi mempunyai bagian yang mirip akar (rizoid), batang, dan daun.

Pada beberapa jenis lumut hati atau lumut tanduk tubuhnya masih berupa talus (lembaran). Perhatikan struktur tubuh lumut pada gambar berikut.
struktur tubuh lumut


Rizoid merupakan struktur menyerupai rambut atau benang-benang yang berfungsi untuk melekatkan tubuh pada tempat tumbuhnya dan menyerap air serta garam-garam mineral. Rizoid terdiri dari satu deret sel yang memanjang, terkadang dengan sekat yang tidak sempurna. Batang dan daun lumut belum mempunyai floem maupun xylem. Sel-sel penyusun tubuhnya mempunyai dinding sel yang terdiri dari selulose.

Lumut tidak mempunyai sistem pembuluh pengangkut yang khusus untuk mengangkut air dan mineral organik, sehingga proses pendistribusian air berjalan lambat yaitu secara difusi. Daun pada umumnya lumut disusun oleh sel-sel setebal 1 lapis, kecuali ibu tulang daun, yang memiliki lebih dari 1 sel. Sel-selnya sempit, panjang, kecil, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala.

Tubuh tumbuhan lumut dengan berbagai struktur umum tersebut adalah gametofit. Setelah dewasa, lumut akan membentuk sporofi t. Sporofit ialah struktur tubuh lumut yang terdiri atas bagian-bagian tertentu, yaitu vaginula, kaliptra, dan kolumela. Perhatikan berikut ini Vaginula adalah bagian sporofit yang terdiri dari kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium, seta (tangkai), dan apofisis yaitu ujung seta yang agak melebar, yang merupakan peralihan antara seta dengan kotak spora (sporangium).

sporofit tumbuhan lumut

Kaliptra adalah tudung yang berasal dari dinding arkegonium sebelah atas menjadi tudung kotak spora. Sedangkan kolumela adalah jaringan yang tidak ikut mengambil bagian dalam pembentukan spora.

Sporofit tumbuhan lumut tumbuh menumpang pada gametofit yang hijau menyerupai daun. Sporofit ini memiliki klorofil, sehingga dapat berfotosintesis. Tetapi, tumbuhan lumut juga bisa mendapatkan makanan dari gametofit tempatnya melekat.

Habitat lumut adalah tempat-tempat yang memiliki kelembapan yang tinggi. Di lingkungan sekitar, kita dapat menemukan berbagai jenis lumut yang melekat pada tembok, sumur, bebatuan, dan permukaan batu bata. Selain itu, tumbuhan lumut banyak dijumpai di hutan yang lebat, di atas tanah atau di atas batu, pada kayu-kayu lapuk, daerah pegunungan, dan hutan hujan tropis.

Siklus Hidup Lumut

Siklus hidup lumut berbeda dengan tumbuhan lainnya karena siklus hidup lumut didominasi oleh gametofit. Gametofit menghasilkan organ kelamin jantan atau anteredium dan organ kelamin betina atau arkegonium.

Apabila anteredium dan arkegonium dihasilkan oleh satu gametofit (satu individu lumut) maka jenis tersebut disebut lumut berumah satu atau homotalus, sedangkan jika keduanya dihasilkan oleh gametofit yang berbeda maka jenis tersebut dinamakan lumut berumah dua atau heterotalus.


homotalus

heterotalus

Pada pembahasan ini kita akan memakai contoh siklus hidup pada lumut daun. Sebagian besar spesies lumut daun bersifat heterotalus. Gametofit jantan membentuk anteredium dan gametofit betina membentuk arkegonium. Sperma dari anteredium dengan perantaraan air berenang kearah sel telur di dalam arkegonium lalu terjadi pembuahan yang menghasilkan zigot.

Zigot yang bersifat diploid lalu akan mengalami mitosis dan bekembang menjadi sporofit embrionik di dalam arkegonium. Pada ujung batang sporofit yang memanjang terdapat sporangium, yaitu kapsul tempat spora haploid berkembang.

Sporangium juga berfungsi sebagai tempat terjadinya pembelahan mitosis. Setelah masak, kapsul spora pecah dan spora terpencar keluar. Spora-spora tersebut apabila menemukan tempat yang mempunyai kelembaban yang sesuai akan berkecambah membentuk protonemata (jamak dari protonema) kecil yang berwarna hijau. Protonemata haploid tersebut terus tumbuh dan berdiferensiasi sehingga membentuk gametofi t. Gametofit dewasa akan membentuk gamet-gamet yang akan berkembang dan kembali menjalani siklus serupa.

GAMBAR siklus hidup lumut daun

Perkawinan antara gamet jantan dan gamet betina membentuk spora yaitu perkembangbiakan secara seksual (generatif). Selain melalui perkembangbiakan generatif, lumut juga dapat berkembang biak secara vegetatif. Bagian gametofit lumut yang patah dan terbawa angin atau burung yang mencari bahan sarang bisa tumbuh apabila jatuh di tempat-tempat yang lembap. Beberapa jenis lumut juga sangat mudah membentuk tunas-tunas atau gemma.

Gemma merupakan tubuh bersel satu atau banyak. Biasanya, menguncup dari jaringan generatif khusus pada rizoid, batang, daun, atau protenema. Gemma bisa secara efektif memberikan persebaran dalam waktu cepat. Misalnya terdapat pada Calymperes tenerum dan Marchantia polymorpha. Jenis yang pertama tersebut adalah anggota lumut daun yang mempunyai gemifereous leaf pada ujung daunnya, sedangkan jenis yang satunya merupakan lumut hati yang mempunyai gemma cup pada permukaan talusnya.


Klasifikasi Lumut

Lumut dikelompokkan ke dalam Divisi Bryophyta. Istilah Bryophyta dari bahasa Yunani, yaitu bryon (lumut) dan phyton (tumbuhan). Divisi tersebut, berdasarkan bentuk gametofit dan sporofitnya, dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Kelas Bryopsida atau lumut daun, Kelas Hepaticopsida atau lumut hati, dan Kelas Anthocerotopsida atau lumut tanduk.

Lumut Daun (Bryopsida)

Lumut daun adalah tumbuhan lumut yang paling terkenal. Hamparan lumut daun terdiri dari satu tumbuhan lumut daun yang tumbuh dalam kelompok yang padat, sehingga satu sama lainnya bisa saling menyokong dan menguatkan. Hamparan ini mempunyai sifat seperti karet busa yang bisa menyerap dan menahan air. Contoh lumut daun adalah Sphagnum sp. (lumut gambut), Bryum sp. (hidup di tembok atau batuan yang lembab), dan Aerobrysis longissima (hidup sebagai epifit di hutan).

Tubuh lumut daun bisa dibedakan menjadi rizoid, batang, dan daun. Rizoid merupakan deretan sel yang memanjang atau filamen seluler, menyerupai akar pada tumbuhan tingkat tinggi. Melalui rizoid ini, lumut daun dapat melekat pada benda tempat hidupnya, misalnya saja pohon, dinding, atau bebatuan.

Sementara, fotosintesis banyak terjadi pada bagian atas rizoid yang menyerupai batang atau daun. Namun perlu diingat, apabila bentuk batang, daun, maupun akar (rizoid) lumut daun tidak sama persis strukturnya dengan tumbuhan vaskuler.

Lumut Daun (Bryopsida)

Lumut Hati (Hepaticopsida)

Lumut hati adalah lumut yang kurang menyolok penampilannya bila dibandingkan dengan lumut daun. Tubuh masih berupa lembaran (talus) yang terbagi atas beberapa lobus. Bentuknya akan mengingatkan pada lobus hati pada hewan. Karena itu, lumut ini dinamakan lumut hati. Contoh lumut hati adalah Marchantia polymorpha dan Porella sp.
Siklus hidup lumut hati sangat mirip dengan siklus hidup lumut daun, yakni pembiakan secara seksual dan aseksual. Di dalam sporangia, beberapa lumut hati mempunyai sel berbentuk kumparan, disebut elatera, yang muncul dari kapsul. Elatera ini akan terlepas ketika kapsul terbuka, sehingga spora akan terpancar keluar dari kapsul. Selain itu, lumut hati juga dapat berkembangbiak secara aseksual (vegetatif).

Lumut Hati (Hepaticopsida)

Lumut Tanduk (Anthocerotopsida)

Lumut tanduk punya kemiripan dengan lumut hati, yaitu pada gametofitnya. Perbedaannya, lumut tanduk mempunyai sporofit yang berupa kapsul yang memanjang dan tumbuh seperti tanduk dari hamparan gametofit. Contoh lumut tanduk adalah Anthoceros laevis dan Notothylus indica.

Lumut Tanduk (Anthocerotopsida)

Demikianlah ulasan mengenai pengertian tumbuhan lumut dan klasifikasinya, semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat, lebih dan kurang kami mohon maaf. Terima kasih.

Referensi artikel :
Biologi SMA/MA Kelas X
Sri Widayati, Siti Nur Rochmah, Zubedi

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian, Ciri-ciri, dan Klasifikasi Lumut

1 komentar:

  1. sangat bermanfaat jangan lupa untuk kunjgan baliknya,http://mataduniakami.blogspot.co.id/

    BalasHapus