Materi Kuliah, Pengetahuan Umum

Close
Kamis, 08 Oktober 2015

Periode Angkatan Sejarah, Unsur, Nilai, dan Parafrasa Sastra Indonesia

Periode Angkatan Sejarah, Unsur, Nilai, dan Parafrasa Sastra Indonesia

A. Sastra Indonesia   

Sebuah sastra bisa dikategorikan ke dalam sastra lama dan sastra modern.

Sastra lama ialah jenis sastra yang berkembang pada masyarakat tradisional. Misalnya : pantun, syair, hikayat, legenda, mite, sage, parabel, dan fabel.

Sastra baru ialah sastra yang hidup dan berkembang di kehidupan masyarakat modern. Misalnya : prosa, cerpen, novel, roman, puisi, dan drama.

B. Peridiosasi Sastra Indonesia

Sastra di Indonesia populer bersamaan dengan bahasa Indonesia diperkenalkan pada saat Sumpah Pemuda tahun 1928. Dalam sejarah Indonesia dikenal dengan istilah "Sastra Nusantara" dan angkatan".

Jika sastra nusantara adalah bentuk sastra yang dikenal sebelum tahun 1928 maka istilah angkatan adalah usaha pengelompokkan sastra dalam masa tertentu.

a. Angkatan 20
Angkatan 20 adalah angkatan yang lahir sekitar tahun dua puluhan. Angkatan ini populer dengan angkatan Balai Pustaka karena pada masa itu penerbit yang paling banyak dengan sastra ialah Balai Pustaka.
Hasil karya yang terkenal dari Angkatan 20 ini diantaranya :
  1. Siti Nurbaya 1922 (Marah Rusli)
  2. Azab dan Sengsara 1922 (Merari siregar)
  3. Salah Asuhan 1928 (Abdul Muis)
  4. Kertajaya 1932 (Sanusi Pane), dan lain-lain.

b. Angkatan 30
Angkatan ini populer dengan angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbahna, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, ketiganya mendapat sebutan tiga serangkai pelopor Pujangga Baru.

Perbedaan yang paling terlihat dari Balai Pustaka ialah Pujangga Baru lebih menonjolkan jiwa dinamis, individualis, tidak terikat tradisi, dan lebih menonjolkan seni.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan Pujangga Baru ini, diantaranya:
  1. Layar Terkembang 1936 (Sutan Takdir Alisyahbana)
  2. Anak Perawan di Sarang Penyamun 1942 (Sutan Takdir Alisyahbana)
  3. Buah Rindu 1941 (Amir Hamzah)
  4. DI Bawah Lindungan Ka'bah 1938 (Hamka), dan lain-lain

c. Angkatan 45
Angkatan 45 diperkenalkan oleh Rosihan Anwar di sebuah majalah sastra Siasat pada tahun 1950. Angkatan ini populer dengan angkatan Chairil Anwar karena beliau sangat gigih memperjuangkan sastra pada saat itu. Selain itu, juga sering disebut angkatan Kemerdekaan karena lahir bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indoensia.

Angkatan ini mempunya ciri khas, yaitu bebas dari aturan, individualis, universalistik, realistik, dan futuristik.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan 45 ini, diantaranya:
  1. Deru Campur Debu (Chairil Anwar)
  2. Atheis (Achidat Miharja)
  3. Dari Ave Maria ke Jalan Lain di Roma (Idrus)
  4. Kesusasteraan Indoensia  Modern dalam Kritik dan Essay (H.B Jassin), dan lain-lain.

d. Angkatan 66
Angkatan ini lahir di tengah-tengah kekacauan bangsa Indonesia yang sedang menata kehidupannya setelah Kemerdekaan. Sebagian besar karya angkatan 66 ini berisikan tentang protes terhadap keadaan yang kacau dalam kehidupan bermasyarakat.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan 66 ini, diantaranya:
  1. Tirani dan Benteng (Taufik Ismail)
  2. Pahlawan Tak Dikenal (Toto Sudarto Bachtiar)
  3. Balada Orang-Orang Tercinta (W.S Rendra)
  4. Malam Jahannam (Motinggo Busye), dan
  5. Kapai-Kapai (Arifin C. Noer)

C. Unsur Cerita Sastra Indonesia

a. Intrinsik
Intrinsik ialah unsur kaya sastra yang mendukung dari dalam (intern) sebuah karya sastra tersebut. Diantaranya: Tema, Diksi, Alur (plot), Tokoh, Latar, Sudut Pandang, Amanat

b. Ekstrinsik  
Ekstrinsik ialah unsur karya sastra yang mendukung dari luar (ekstern) sebuah karya tersebut. Diantaranya: Daftar riwayat hidup pengarang, latar sosial masyarakatnya, atau kehidupan si pengarang tersebut.

D. Nilai Sastra Indonesia

a. Nilai Moral
Pesan moral bisa disampaikan secara langsung maupun tidak langsung oleh pengarang. Pesan moral bisa diketahui dari perilaku tokoh-tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat hasil karya sastranya.

b. Nilai Estetis
Nilai Estetis adalah nilai keindahan yang melekat pada karya sastra tersebut. Nilai keindahan itu bisa diketahui dari bentuk rima, diksi, atau gaya bahasanya.

c. Nilai Budaya
Nilai budaya dan sosial tidak terlepas dari karya sastra tersebut bercerita tentang daerah tertentu. Aspek sosial budaya tersebut bisa diketahui dari bentuk latar atau setting, tokoh, corak masyarakat, kesenian ataupun kebudayaannya.

E. Parafrasa Sastra Indonesia

Memahami sebuah puisi adalah kenikmatan yang luar biasa dari sebuah apresiasi karya sastra. Walaupun pemahaman tersebut bersifat banyak interpretasi (banyak penafsiran), salah satu cara untuk bisa memahami sebuah puisi ialah dengan cara memparafrasakan.
Parafrasa ialah mengubah bentuk puisi ke dalam prosa sesuai dengan bahasa kita sendiri.
Ada 2 cara proses memparafrasakan, yaitu:

a. Parafrasa Terikat
    Proses parafrasa yang "hanya" menambahkan kata-kata tertentu pada larik-larik puisi tersebut tanpa mengubah larik-larik puisi tersebut.

b. Parafrasa Bebas
    Proses parafrasa yang "bebas" mengubah larik-larik puisi tersebut ke dalam bahasa kita sendiri.


Referensi :
http://gabriellaasurbakti.blogspot.co.id/2015/01/karya-sastra.html

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Periode Angkatan Sejarah, Unsur, Nilai, dan Parafrasa Sastra Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar